Dua Anak Muda Iban dari Kapuas Hulu Berbagi Kisah Inspiratif Tentang Alam dan Budaya di KJC 2025 Pontianak

Header Menu


Dua Anak Muda Iban dari Kapuas Hulu Berbagi Kisah Inspiratif Tentang Alam dan Budaya di KJC 2025 Pontianak

Friday, August 22, 2025

Kynan Tegar dan Paskalia Wandira (tengah), bersama pemadu diskusi, Cornila Desyana dari Ashoka Foundation (kiri) dan Jurnalis senior, Andi Fachrizal atau akrab disapa Daeng Rizal (kanan).

PONTIANAK, artikelpublik.com - Dua anak muda, yang merupakan Suku Dayak Iban dari Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, yaitu Kynan Tegar dan Paskalia Wandira, berbagi kisah inspiratif tentang bagaimana cara suku mereka menjaga, memanfaatkan dan melestarikan alam serta budaya di wilayah sekitar tempat tinggalnya.


Kisah inspiratif yang keduanya bagikan tersebut saat tampil sebagai pembicara di forum diskusi Kolase Journalist Camp 2025 pada hari pertama, bertempat di Rumah Budaya Kampung Caping (Bantaran Sungai Kapuas), Kelurahan Bansir Laut, Kecamatan Pontianak Tenggara, Jumat (22/8/2025) malam.


Dalam diskusi itu, sebagai pembicara inspiratif, keduanya memaparkan secara gamblang tentang bagaimana mereka menjaga, memanfaatkan dan melestarikan alam, adat hingga budaya masyarakat adat Suku Dayak Iban, khususnya di wilayah mereka tinggal yakni di Desa Batu Lintang (Dusun Sungai Utik), Kecamatan Embaloh Hulu dan Dusun Lauk Rugun, Desa Rantau Prapat, Kecamatan Putussibau Utara, Kabupaten Kapuas Hulu.


Keduanya menyuarakan hal tersebut dengan lantang melalui karya mereka masing-masing, di mana Kynan Tegar, seorang mahasiswa Universitas Indonesia (UI) yang berasal dari Desa Batu Lintang (Dusun Sungai Utik), Kecamatan Embaloh Hulu itu merupakan sutradara muda. Ia menampilkan dua karyanya dalam forum diskusi tersebut yakni film dokumenter tentang alam, adat istiadat dan budaya di wilayahnya serta bagaimana cara menjaga, memanfaatkan dan melestarikannya.


Sementara Paskalia Wandira, seorang Kreator Konten, suku Dayak Iban dari Dusun Lauk Rugun, Desa Rantau Prapat, Kecamatan Putussibau Utara, Kabupaten Kapuas Hulu, yang awalnya ia berkarya melalui platform YouTube sejak tahun 2019 lalu itu, namun kini beralih ke Instagram. Karena, menurut dia, platform media sosial Instagram lebih nyambung dengan anak muda.


Adapun diskusi itu merupakan ajang media dan jurnalisme, serta kreator konten dan pihak lainnya, untuk bagaimana agar turut serta dalam menjaga lingkungan sekaligus merawat keragaman hayati.


Diskusi yang dipandu oleh Cornila Desyana dari Ashoka Foundation itu menyebut bahwa karya Kynan Tegar dan Paskalia Wandira tersebut merupakan bukti nyata bahwa menjaga budaya dan lingkungan bisa dilakukan secara kreatif, baik lewat film maupun lewat media sosial dan lain sebagainya.


Kynan Tegar pada kesempatan itu, menayangkan dua film dokumenternya yang berjudul Indai Apai Darah dan Earth Defender.


Kynan Tegar menjelaskan, motivasi awalnya dalam membuat film tersebut sangat simpel yakni ingin melihat masyarakat Iban tampil di layar.


“Sejak kecil saya nonton TV, tapi nggak pernah lihat orang Iban di sana. Nggak ada representasi tentang kami. Makanya saya mulai bikin film, biar cerita-cerita kami bisa disampaikan dari perspektif kami sendiri,” ujar Kynan.


Bagi Kynan, pesan filmnya tersebut sederhana namun memiliki makna yang dalam, terutama tentang entitas masyarakat adat Suku Dayak Iban yaitu tentang ikatan hidup antara manusia dengan alam. 


Ia juga menyoroti tentang krisis iklim, yang menurutnya adalah akibat dari dosa manusia terhadap alam, di mana apabila mengambil sesuatu dari hutan, maka harus memberi kembali atau memberi balik 



“Menjadi masyarakat adat itu bukan karena nggak modern, namun yang penting bagaimana hubungan timbal balik antara manusia dengan alam agar tetap dijaga,” katanya.


Sementara itu, Paskalia Wandira, memaparkan bahwa motivasinya menjadi kreator konten yakni agar orang-orang tahu tentang keseharian masyarakat suku Dayak Iban, mulai dari budayanya hingga tradisinya dan lain sebagainya.


"Supaya anak muda juga sadar bahwa kita memiliki kekayaan budaya yang harus dilestarikan, bukan ditinggalkan," tuturnya.


Salah satu yang diangkat Paskalia Wandira yaitu tradisi tenun di kampungnya.


Menurutnya, motif-motif kain tenun di kampungnya tersebut lahir dari imajinasi perempuan desa, yang terinspirasi dari hutan, hewan, hingga cuaca, di mana pewarnaannya menggunakan bahan alami, yang berasal dari alam sekitar.


Di sisi lain, ia juga memaparkan tantangannya sebagai kreator konten, yang salah satunya adalah akses internet yang minim. 


“Kalau mau upload konten, terkadang saya harus jalan jauh cari sinyal. Kadang baru bisa upload seminggu kemudian,” tutur Paskalia Wandira.


Terkait keragaman hayati, Paskalia Wandira berpendapat bahwa hal tersebut merupakan kekuatan bersama, di mana peran media terutama yang digerakkan oleh anak muda, menjadi kunci dalam menjaga warisan tersebut.


Menanggapi hal itu, Jurnalis senior, Andi Fachrizal atau akrab disapa Daeng Rizal, mengatakan bahwa generasi muda Iban, kini berani membawa filosofi hidup mereka ke ruang digital. 


Menurut dia, isu lingkungan sering kali penuh tekanan, di mana kalau dahulu jurnalis diintimidasi secara fisik, namun saat ini tantangannya yaitu menghadapi branding positif perusahaan yang menutupi kerusakan lingkungan. 


"Jadi, jurnalis harus kolaboratif, tidak bisa sendirian,” ungkapnya.


Sebagaimana diketahui, dalam diskusi itu, semua sepakat bahwa peran media, baik jurnalis (wartawan), kreator film, maupun konten digital, merupakan senjata anak muda untuk memperkuat kesadaran lingkungan sekaligus menjaga warisan budaya.


Adapun agenda tahunan yakni Kolase Journalist Camp, yang mengusung tema “Ragam Hayati sebagai Kekuatan Kita Bersama” itu diawali dengan tradisi besaprah, yaitu makan bersama, yang merupakan salah satu ciri khas masyarakat Kalimantan Barat, yang sarat akan makna kebersamaan, di mana suasana akrab tampak menyelimuti pembukaan acara tersebut.


Penerbit: Noto Sujarwoto